Beberapa Macam Motif Batik Di Indonesia
Batik
adalah salah satu budaya bangsa Indonesia, karena sejak zaman nenek moyang dulu
kita sudah bisa mengenal apa itu batik. hal ini dibuktikan dengan ditemukannya
berbagai macam motif batik pada keramik dan lain sebagainya. Indonesia kaya
akan berbagai macam-macam batik dengan teknik dan ragam hias yang beraneka
ragam.
Macam-macam Batik
Jika dilihat dari ornamennya, batik daerah di Indonesia banyak yang bersumber dari ragam hias zaman prasejarah seperti motif geometris dan perlambangan. Macam-macam batik bisa dilihat dari motif yang dipakai. seperti halnya budaya, ragam hias pada batik pun mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh lingkungannya.
Adapun motif-motif batik bisa dikelompokkan ke dalam beberapa jenis, yaitu :
Macam-macam Batik
Jika dilihat dari ornamennya, batik daerah di Indonesia banyak yang bersumber dari ragam hias zaman prasejarah seperti motif geometris dan perlambangan. Macam-macam batik bisa dilihat dari motif yang dipakai. seperti halnya budaya, ragam hias pada batik pun mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh lingkungannya.
Adapun motif-motif batik bisa dikelompokkan ke dalam beberapa jenis, yaitu :
1.
Motif Geometris dengan pola hias tumpal, meander dan pola pilin.
2. Motif flora, seperti dedaunan, tumbuhan menjalar dan lain sebagainya.
3. Motif fauna seperti kupu-kupu, burung dan lain sebagainya.
4. motif benda alam seperti bebatuan, awan dan lain sebagainya.
Sehubungan dengan itu ragam batik bisa dikelompokan menjadi 2 kelompok, yang Pertama, Batik Keraton, yaitu batik yang tumbuh didaerah lingkungan istana, khususnya Jawa Tengah, Cirebonan seperti batik solo, batik jogja dan batik cirebon. Motif yang dihasilkan berdasarkan berdasarkan filsafat kebudayaan yang mengacu pada nilai spiritual. Kedua batik pesisir yaitu batik yang tumbuh diluar batiik keraton dan mengalami perubahan yang berbeda dengan batik keraton.
Teknik Pembuatan Batik
Batik merupakan teknik rekalatar, yang pengerjaannya menggunakan semacam lilin yang disebut malam. Ada 3 macam teknik pembuatan Batik :
1. Batik Tulis
2. Motif flora, seperti dedaunan, tumbuhan menjalar dan lain sebagainya.
3. Motif fauna seperti kupu-kupu, burung dan lain sebagainya.
4. motif benda alam seperti bebatuan, awan dan lain sebagainya.
Sehubungan dengan itu ragam batik bisa dikelompokan menjadi 2 kelompok, yang Pertama, Batik Keraton, yaitu batik yang tumbuh didaerah lingkungan istana, khususnya Jawa Tengah, Cirebonan seperti batik solo, batik jogja dan batik cirebon. Motif yang dihasilkan berdasarkan berdasarkan filsafat kebudayaan yang mengacu pada nilai spiritual. Kedua batik pesisir yaitu batik yang tumbuh diluar batiik keraton dan mengalami perubahan yang berbeda dengan batik keraton.
Teknik Pembuatan Batik
Batik merupakan teknik rekalatar, yang pengerjaannya menggunakan semacam lilin yang disebut malam. Ada 3 macam teknik pembuatan Batik :
1. Batik Tulis
Cara
pembuatan batik dengan melukiskan sebuah pola pada kain dengan menggunakan
tangan, alat-alat yang diperlukan antara lain :
• Canting, fungsinya sebagai pena yang terbuat dari tembaga dengan menggunakan malam.
• Gawangan, berfungsi untuk membentangkan batik yang akan dilukis
• Wajan, kauli yang terbuat dari tanah liat atau logam untuk mencairkan malam.
• Anglo, perapian dari tanah liat, api dinyalakan dengan menggunakan arang.
• Tipas/ Tepas, gunanya untuk membesarkan api
• Canting, fungsinya sebagai pena yang terbuat dari tembaga dengan menggunakan malam.
• Gawangan, berfungsi untuk membentangkan batik yang akan dilukis
• Wajan, kauli yang terbuat dari tanah liat atau logam untuk mencairkan malam.
• Anglo, perapian dari tanah liat, api dinyalakan dengan menggunakan arang.
• Tipas/ Tepas, gunanya untuk membesarkan api
2. Batik Cap
Batik
cap adalah motif kain batik yang dihasilkan dari proses pencelupan semacam alat
yang dibuat dari tembaga yang sudah dibentuk sedemikian rupa pada kain. dalam
proses ini yang perlu diperhatikan adalah sambungan pada tiap sisinya, hingga
nantinya motif tidak terlihat terkotak-kotak.
3. Batik Printing
3. Batik Printing
Teknik
pembuatan batik yang prosesnya sama dengan pembuatan kain textil pada umumnya,
yang membedakan yakni motifnya.
II. PERKEMBANGAN BATIK DI INDONESIA
II. PERKEMBANGAN BATIK DI INDONESIA
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu.
Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan
hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena
banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini
dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat
terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah
tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya
pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik
wanita maupun pria.
Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan
sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan
asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi,
soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari
tanah lumpur. Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman
kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun
mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya
suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang
dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap
dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini
batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.
III. BERBAGAI MACAM BATIK DI INDONESIA
III. BERBAGAI MACAM BATIK DI INDONESIA
Corak dan motif batik Indonesia sendiri sangat banyak, ada yang
merupakan motif asli dari nenek moyang bangsa kita dan ada juga yang merupakan
akulturasi dengan bangsa lain. Di bawah ini merupakan macam-macam batik yang
terdapat di Indonesia:
1. Batik Kraton
Batik Kraton awal mula dari semua
jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi
hidup. Batik-batik ini dibuat oleh para putri kraton dan juga pembatik-pembatik
ahli yang hidup di lingkungan kraton. Pada dasarnya motifnya terlarang untuk
digunakan oleh orang biasa seperti motif Parang Barong, Parang Rusak termasuk
Udan Liris, dan beberapa motif lainnya.
2. Batik Sudagaran
Motif larangan dari kalangan keraton merangsang seniman dari kaum
saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka
juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat
umum. Desain batik Sudagaran umumnya terkesan berani dalam pemilihan bentuk,
stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi
warna soga dan biru tua. Batik Sudagaran menyajikan kualitas dalam proses
pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta
batik Sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan
mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.
3. Batik Petani
Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan kagok serta tidak halus. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan. Untuk pewarnaan pun diikutkan ke saudagar.
4. Batik Belanda
Warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan batik Indonesia. Mereka membuat motif sendiri yang disukai bangsa Eropa. Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti tulip dan motif tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana.
5. Batik Jawa Hokokai
Pada
masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang
disebut batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan
krisan.
Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi. Batik Indonesia Khususnya Di Daerah Jawa:
Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi. Batik Indonesia Khususnya Di Daerah Jawa:
a. Batik Hokokai
Kata Hokokai berasal dari bahasa
Jepang. Motif Hokokai didisain ketika Jepang menguasai Indonesia pada tahun
1940-an.
b. Kawung
Motif Kawung berpola bulatan mirip
buah Kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai buah
kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Kadang, motif ini juga
diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar daun
bunga yang merekah. Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan
kesucian. Biasanya motif-motif Kawung diberi nama berdasarkan besar-kecilnya
bentuk bulat-lonjong yang terdapat dalam suatu motif tertentu. Misalnya :
Kawung Picis adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan yang kecil.
Picis adalah mata uang senilai sepuluh senyang bentuknya kecil. Sedangkan
Kawung Bribil adalah motif-motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih
besar daripada kawung Picis. Hal ini sesuai dengan nama bribil, mata uang yang
bentuknya lebih besar daripada picis dan bernilai setengah sen. Sedangkan
kawung yang bentuknya bulat-lonjong lebih besar daripada Kawung Bribil disebut
Kawung Sen.
c. Naga
c. Naga
d. Batik Jawa Baru
Setelah Perang Dunia II usai, Jepang takluk dan angkat kaki dari Indonesia, batik sebagai industri mengalami masa surut. Namun, motif-motif batik terus berkembang, mengikuti suasana. Ketika itu juga muncul istilah seperti batik nasional dan batik Jawa baru. Batik Jawa baru bisa disebut sebagai evolusi dari batik Hokokai. Pada tahun 1950-an batik yang dihasilkan masih menunjukkan pengaruh batik Hokokai yaitu dalam pemilihan motif, tetapi isen-isen-nya tidak serapat batik Hokokai.
e. Batik Jawa Hokokai
Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan. Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi.
f. Lasem Sekar Jagad
Kombinasi dari berbagai macam bunga dan kupu-kupu. Batik dengan motif kombinasi ini dibuat di Lasem, sebuah kota kecil di Jawa Tengah.
IV. CONTOH BATIK DI BERBAGAI DAERAH INDONESIA
1. Batik Yogyakarta
Batik Yogyakarta adalah salah satu dari batik Indonesia yang pada awalnya dibuat terbatas hanya untuk kalangan keluarga keraton saja. Warna batik tradisionalnya adalah biru-hitam, serta soga cokelat dan putih dari pewarna alam. Biru-hitam diambil dari daun tanaman indigofera yang disebut juga nila atau tom yang difermentasi. Sementara warna soga atau cokelat diambil dari campuran kulit pohon tinggi warna merah, kulit pohon jambal warna merah cokelat, dan kayu tegeran warna kuning.Sered atau pinggiran kain diusahakan tidak kemasukan soga atau pewarna. Oleh sebab itu, pinggiran batik Yogyakarta berwarna kain latar.Karakter motif batik Yogya adalah tegas, formal, sedikit kaku, dan patuh pada pakem. Konon, karakter ini berhubungan dengan keraton Yogya yang anti-kolonial.
Ragam hias batik Yogyakarta ada yang geometris seperti lereng atau
garis miring lerek, garis silang atau ceplok, kawung, anyaman, dan limaran.
Ragam hias yang nongeometris seperti semen, lung-lungan, dan boketan. Ada juga
ragam hias yang bersifat simbolis misalnya meru melambangkan gunung atau tanah
(bumi), naga melambangkan air, burung melambangkan angin atau dunia atas, dan
lain-lain. Ragam motif batik Yogyakarta sangat banyak dan semuanya sangat
indah, mulai dari motif bunga, tumbuhan air, tumbuhan menjalar, satwa, dan
lain-lain
Ada ratusan jenis batik Yogya di antaranya telah dipatenkan. Motif Batik Yogya tidak sembarang motif. Setiap motif yang tergores di atas batik sarat akan filosofi. Setiap motif yang tergores di atas batik sarat akan filosofi.Motif tersebut antara lainMotif parang rusak barong, memiliki filosofi Parang menggambarkan senjata, kekuasaan. Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.Sido Asih bermakna si pemakai selalu diliputi kasih sayang dalam berumah tangga. Truntum berarti cinta yang bersemi. Ratu Ratih dan Semen Roma melambangkan kesetiaan seorang isteri. Parang Kusumo, memiliki arti bunga yang mekar, diharapkan pemakainya terlihat indah.Cuwiri, memiliki filosofi pengharapan pemakainya terlihat pantas dan dihormati
Ada ratusan jenis batik Yogya di antaranya telah dipatenkan. Motif Batik Yogya tidak sembarang motif. Setiap motif yang tergores di atas batik sarat akan filosofi. Setiap motif yang tergores di atas batik sarat akan filosofi.Motif tersebut antara lainMotif parang rusak barong, memiliki filosofi Parang menggambarkan senjata, kekuasaan. Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.Sido Asih bermakna si pemakai selalu diliputi kasih sayang dalam berumah tangga. Truntum berarti cinta yang bersemi. Ratu Ratih dan Semen Roma melambangkan kesetiaan seorang isteri. Parang Kusumo, memiliki arti bunga yang mekar, diharapkan pemakainya terlihat indah.Cuwiri, memiliki filosofi pengharapan pemakainya terlihat pantas dan dihormati
2. Batik Solo
Solo adalah salah satu daerah yang harus disebut ketika kita membahas tentang batik. Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Ragam motif batik asal Solo dipengaruhi dengan makna-makna simbolis yang berasal dari kebudayaan Hindu. Dari kesemuanya, secara umum corak batik Solo merupakan perpaduan dari bentuk-bentuk geometris yang berukuran kecil-kecil. Selain itu, ciri khas yang terdapat pada batik Solo adalah terletak dalam pewarnaannya. . Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu.
Warna soga (kecokelatan) menjadi
ciri khas batik Solo, dan kemudian disebut sebagai batik Sogan ,ini memiliki
arti “kerendahan hati, bersahaja” menandakan kedekatan dengan bumi, alam, yang
secara sosial bermakna dekat dengan rakyat. Batik Solo menguarkan aura megah
dan kesan anggun. Tidak semata-mata karena paduan warna dan lekuk motifnya,
melainkan makna yang terkandung di balik setiap motif itu. Dalam sejarah, hanya
di wilayah Jawa, tepatnya di Solo dan Jogjakarta, batik masuk ke ranah
kekuasaan. Motif-motif batik khusus dibuat untuk raja dan kalangan keraton.
Beberapa motif batik solo antara
lain motif Wahyu Tumurun, artinya restu dari Tuhan Yang Maha Esa. Diharapkan
berkat datang sehingga pangkat naik, atasan memberikan penghargaan, kehidupan
membaik, dan rezeki pun melimpah. Motifnya terbilang simpel, seperti juga
Sidomulyo. Sido dalam bahasa Jawa berarti ‘jadi’, sedangkan mulyo berarti
mulia. Singkatnya, pola Sidomulyo mengandung harapan untuk memperoleh
kebahagiaan dan ketenteraman dari Tuhan. Untuk perkawinan, ada yang namanya
motif Semen Rante. Dalam motif ini, gambar rantai dipadukan dengan bunga kantil.
Bunga tersebut terkenal sebagai simbol panjang umur. Biasanya kain batik
bermotif Semen Rante dijadikan bingkisan lamaran supaya hubungan kedua calon
mempelai semakin erat.
3. Batik Pekalongan
Pekalongan adalah salah satu daerah
produksi utama batik dengan desain utara Jawa pesisir. Walaupun Pekalongan
bukan penghasil batik pesisir tertua, namun paling halus dan sampai sekarang
penghasil batik utama. Ragam hias Hindu-Jawa melekat namun tidak seperti
Solo-Yogya yang terikat peraturan-peraturan keraton. Pembatik santri di
Pekalongan pun menerapkan seni hias dari nuansa Islam. Pengaruh dominannya
datang dari Cina dan Belanda, dan akibat paparan dengan berbagai budaya, sangat
berbeda dengan batik di pedalaman Jawa. Warna lebih beraneka dan ragam hiasnya
naturalistis. . Ada lebih dari 100 desain Batik yang sudah dikembangkan sejak
1802, dan beberapa yang populer Batik Pekalongan antara lain batik Jlamprang
diilhami India dan Arab, batik Encim dan Klangenan dipengaruhi peranakan Cina,
batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai yang tumbuh pesat sejak
pendudukan Jepang.
Warna cerah dan motif beragam
membuat batik Pekalongan maju pesat. Berbeda dengan batik Solo dan Yogyakarta,
batik Pekalongan terlihat lebih dinamis lantaran permainan motif yang lebih
bebas. Media kainnya pun bermacam-macam. Tidak hanya katun dan kaos, sutera
juga menjadi andalan batik Pekalongan saat bersaing di luar negeri. Motif
Jlamprang, Sekarjagat, atau motif khas lainnya, menjadi berkelas ketika
dituangkan dalam bahan baku sutera.
4. Batik Cirebon
4. Batik Cirebon
Kota Cirebon dikenal dengan kerajinan batik tulisnya dengan salah satu motif yang paling dikenal adalah motif mega mendung. kain batik tulis ini sangat cocok digunakan sebagai suvernir maupun di pakai secara langsung sebagai busana
Batik Cirebon menampilkan 2 kategori
motifnya yaitu: Menampilkan motif keratonan yang diambil dari ornamen-ornamen
keraton baik dari unsur bangunan maupun benda-benda yang ada di sekitar keraton
dan warnanya cenderung pada warna sogan dan babar mas. Selain keratonan, juga
menampilkan motif pesisiran yang berisi flora dan fauna baik dari darat maupun
laut yang warnanya lebih terang, misal biru,merah, dll.Adapun Bahan yang
digunakan adalah dari sutra, katun, katun primisima dan prima.
Motif batik Cirebon yang paling
diingat orang sekaligus dijadikan lambang kota tersebut adalah motif awan Mega
Mendung. Motif ini banyak dipengaruhi oleh budaya China. Garis-garis awan dalam
motif mega mendung diinspirasi dari motif China. Meski demikian, mega mendung
ala Cirebon tetap memiliki ciri khas sendiri yakni bentuk garis-garis awan yang
berbentuk lonjong, lancip dan segitiga yang berbeda dengan garis awan motif
China yang umumnya berbentuk bulatan atau lingkaran. Sentuhan budaya China pada
batik Cirebon itu pada akhirnya melahirkan motif batik baru khas Cirebon.
Mega mendung Cirebon sarat makna
religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya merupakan simbol perjalanan hidup
manusia, dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa hingga menemui akhir hayatnya.
Rangkaian kehidupan, dari lahir sampai temui ajal ini merupakan simbol
kebesaran Sang Ilahi. Selain perjalanan manusia, corak mega mendung juga
melukiskan kepemimpinan yang mengayomi dan juga perlambang keluasan serta
kesuburan.
Selain motif Mega Mendung, Batik
Cirebon juga memiliki motif khas, yaitu motif Kompeni. Motif ini konon dulunya
diciptakan oleh pengusaha Belanda di Cirebon pada saat jaman penjajahan
dulu.Adapun ciri motif kompeni adalah biasanya tentang kehidupan tentara
kompeni jaman dulu dengan ciri khas membawa bedil/senapan, ada juga tentang kehidupan
petani, pedagang. Intinya ciri motif batik kompeni ialah bercerita tentang
kehidupan, baik jaman dulu waktu semasa penjajahan Belanda ataupun jaman
sekarang.
5. Batik Indramayu
Batik Indramayu sering disebut juga dengan batik dermayon, memiliki ciri khas motif berupa gambar datar flora dan fauna, dengan borgol dan banyak garis lengkung yang lancip (riritan), latar belakang putih dan warna gelap dan banyak titik-titik yang dibuat dengan teknik cocolan jarum, dan bentuk dari isen-isen (sawut) yang pendek dan kaku. Ragam hias batiknya dipengaruhi mata pencaharian penduduk kota ini yang merupakan nelayan. Selain itu, kebudayaan Cina, seni dan kepercayaan Hindu berperan dalam bentuk-bentuk yang tampak sampai sekarang. Sifatnya cenderung dinamis dan bermacam-macam. Tidak mengherankan, kebanyakan produk seni budaya merupakan bagian akulturasi dan asimilasi atau perbauran budaya yang berlainan.
Beberapa contoh motif batik dermayon
antara lain : motif Banji Tepak salah satu yang dihasilkan di Indramayu. Secara
umum, banji sendiri adalah simbol keadilan dan kemakmuran. Banji Tepak terdiri
dari 38 submotif, di antaranya semen, kembang gempol, dan sawat suri. Tepak
adalah kotak untuk menyimpan perhiasan dan diletakkan di bagian dalam tembok,
di bawah ubin tepatnya, dalam kondisi terkunci. Motif Obar-abir berbentuk dasar
segitiga. Terinspirasi peristiwa ombak besar disertai angin kencang. Motif
Etong, menggambarkan berbagai satwa laut yang dibawa pulang oleh setelah ikan
laut seperti ikan, udang, cumi, ubur-ubur dan kepiting. motif Kembang Gunda
adalah tanaman yang tinggal di pesisir pantai dan bisa menjadi lauk pecel. Motif
Perang Teja, yang menggambarkan kisah peperangan rakyat Indramayu dengan
serdadu Belanda sepanjang tepi kali Cimanuk. Motif Srintil. Srintil adalah
sejenis burung yang hidup dan beterbangan di kawasan pantai Indramayu. Sering
kali burung Srintil tersangkut jala nelayan.
Ada lagi motif Jendral Pesta, dahulu dikenakan oleh Gubernur Hindia Belanda ketika menghadiri pesta penobatan Ratu Wilhelmina. Selain itu, ada motif Puyong. Puyong adalah burung berparuh besar dan berleher panjang yang bentuknya menyerupai merpati. Burung ini hidup bebas di hutan, kebanyakan di Pulau Nila. Konon di pulau tersebut, para nelayan asal Paoman kerap bersembunyi.
Ada lagi motif Jendral Pesta, dahulu dikenakan oleh Gubernur Hindia Belanda ketika menghadiri pesta penobatan Ratu Wilhelmina. Selain itu, ada motif Puyong. Puyong adalah burung berparuh besar dan berleher panjang yang bentuknya menyerupai merpati. Burung ini hidup bebas di hutan, kebanyakan di Pulau Nila. Konon di pulau tersebut, para nelayan asal Paoman kerap bersembunyi.
6. Batik Madura
Ternyata, Pulau Madura tak hanya tersohor dengan karapan sapi dan garamnya. Wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini juga terkenal sebagai penghasil batik. Bahkan, produk batiknya memiliki ragam warna dan motif yang tidak kalah dengan produksi daerah lain. Maklum, batik Madura menggunakan pewarna alami sehingga warnanya cukup mencolok. Selain warna yang mencolok, seperti kuning, merah atau hijau, batik Madura juga memiliki perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka flora dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
Karakteristik Batik Madura adalah
dalam warna dan desain. Seperti Batik dari pantai utara dari Jawa, Disain batik
Madura memiliki warna cerah dan lebih banyak kebebasan dalam aplikasi desain.
Warna utama batik Madura umumnya merah, merah tua atau jingga, biru tua, hijau
tua, hitam dan putih. Di daerah Pamekasan, batik Madura kemudian juga mulai
menggunakan warna seperti biru muda, cokelat muda mengikuti perkembangan zaman.
. Selain warna yang mencolok, batik Madura juga memiliki perbendaharaan motif
yang beragam.Ragam hias batik madura bersifat naturalistis., apa yang dilihat
di alam sekitar, itulah yang digambar. Contohnya, ayam bekisar, udang, kepiting
maupun tumbuh-tumbuhan Ragam hias batik Madura juga tidak mengenal stilisasi.
Semua bentuk diwujudkan secara utuh, tidak membentuk simbol-simbol tertentu.
Coraknya biasanya digambarkan besar-besar sehingga motif yang kecil-kecil tidak
menonjol. Ini erat hubungannya dengan sifat alamnya yang keras, dan watak orang
Madura yang berani dan tegas.
Salah satu batik terkenal dari
Madura adalah Batik Gentongan, yang memiliki karakteristik tertentu dalam
mewarnai, yang dihasilkan dari pengolahan yang berbeda dibandingkan dengan
batik lainnya. Pada tahap pertama dari proses tersebut, kapas (mori) didicuci
dan direndam dalam tong air yang dicampur dengan minyak khusus dari residu
kayu. Pada langkah terakhir dari pengolahan kain diletakkan kembali ke dalam
tong selama sedikitnya dua bulan untuk membuat efek yang selalu awet dan
perbedaan warna.
7. Batik Tegal
Batik Tegalan didominasi warna coklat dan biru. Ciri khas lain batik Tegalan adalah berwarna-warni. Batik tulis Tegal atau Tegalan itu dapat dikenali dari corak gambar atau motif rengrengan besar atau melebar. Motif ini tak dimiliki daerah lain sehingga tampak eksklusif. Motifnya banyak mangadaptasi dari aneka flora dan fauna disekitar kehidupan masyarakat di kota Tegal. Motif Grudo (Garuda) dengan warna terang yang mempertontonkan bentuk-bentuk sayap burung garuda dan motif Gribigan dengan bentuk khas anyaman bambu dalam warna agak gelap.
Dalam perkembangannya, batik Tegalan
dapat dibedakan dalam dua motif dasar, yakni motif klasik dan motif
pengembangan. Motif klasik dibedakan lagi menjadi dua macam, yakni motif klasik
irengan yang didominasi warna hitam, coklat dan biru serta motif klasik bangjo
yang dipengaruhi tradisi Batik Lasem yang didominasi warna kuning, coklat,
merah, hijau dan biru. Motif yang dikategorikan sebagai motif klasik irengan
diantaranya motif gribikan, jahe-jahenan, kawung mlinjo, sidomukti ukel, udan
liris, ukel wit-witan, kopi pecah, parang, parang angkik, putihan, sawat candra
atau sawat ireng, rujak sente, welut gumbel, kecubungan, buntat, kawung endog,
manggaran, cempaka putih, cempaka mulya, ukel pyur, semut runtung, serta sidomukti
putihan. Sedang motif yang termasuk motif klasik bangjo adalah motif wadas
gempal, jamblangan, gribikan, kawungjenggot, cecek kawe, unian, sokaraja,
blarakan, kopi pecah, gribikan, galaran, buntut bajing, semut runtung, beras
mawur, tumbar bolong, dan tambangan.
Motif Pengembangan merupakan motif yang dipengaruhi tradisi batik lain dalam pembuatan Batik Tegalan. Meski demikian modifikasi Motif Pengembangan ini tidak mengubah karakteristik Batik Tegalan dengan warna-warna terang dan motif flora fauna yang banyak ditemui di Tegal. Motif Pengembangan ini diantaranya motif gedong kosong, manuk emprit, sotong, manuk surwiti, kipas-kipasan, juga kembang kertas.
Motif Pengembangan merupakan motif yang dipengaruhi tradisi batik lain dalam pembuatan Batik Tegalan. Meski demikian modifikasi Motif Pengembangan ini tidak mengubah karakteristik Batik Tegalan dengan warna-warna terang dan motif flora fauna yang banyak ditemui di Tegal. Motif Pengembangan ini diantaranya motif gedong kosong, manuk emprit, sotong, manuk surwiti, kipas-kipasan, juga kembang kertas.
8. Batik Banten
Motif batik banten yang paling terkenal dan menjadi ciri khas batik Banten adalaha Motif Datulaya. Datulaya berarti tempat tinggal pangeran. Dasarnya belah ketupat berbentuk bunga, dan lingkaran yang dibingkai sulur-sulur daun. Warna dasarnya biru, divariasikan dengan sulur daun abu dan dasar kainnya berwarna kuning.
Pangeran yang dimaksud adalah Sultan Hasanuddin. Motifnya diambil dari ruang keluarga kesultanan tersebut.Warna batik Banten sangat meriah. Itu merupakan hasil perpaduan warna-warna pastel yang ceria namun lembut. Warna ini konon sulit ditiru perajin batik dari daerah lain karena menggunakan air Banten asli yang kabarnya menguatkan warna.
Kombinasi warna ini juga dipengaruhi tanah. Ketika dicelup, warna-warna terang tadi berubah menjadi nuansa pastel yang lebih kalem. Warna-warna tersebut mencerminkan karakter orang Banten yang bersemangat, ekspresif tetapi rendah hati.
Semangat kesultanan dan sejarah
semakin terlihat pada nama-nama motif batik Banten kebanyakan. Ada Sabakingking
(dari gelar Sultan Hasanuddin), Kawangsan (ada hubungannya dengan Pangeran
Wangsa), Kapurban (ada kaitan dengan gelar Pangeran Purba), serta Mandalikan
(berhubungan dengan Pangeran Mandalika). Ada lagi motif Srimanganti yaitu
tempat raja bertatap muka dengan rakyat dan motif Surosowan, yaitu ibukota
kesultanan Banten. Semuanya merupakan ragam hias dari karya seni abad ke-17
yang dibangkitkan kembali
9. Batik Tuban
BATIK Tuban merupakan batik yang paling khas di Jawa Timur, Kenapa? karena proses pembatikannya dimulai dari bahan kain yang digunakan untuk membatik dipintal langsung dari kapas. Jadi gulungan kapas dipintal menjadi benang, lalu ditenun, dan setelah jadi selembar kain lalu dibatik. Batik ini kemudian disebut Batik Gedog.
Dalam buku Batik Fabled Cloth of
Java karangan Inger McCabe Elliot tertulis, sebenarnya batik Tuban mirip dengan
batik Cirebon pada pertengahan abad ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan
benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan.
Namun, ketika Kota Cirebon mengalami perubahan dramatis dan diikuti dengan
perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap seperti semula.
Batik Tuban termasuk ke dalam batik pesisir. Kebanyakan orang menyebut motif dari Batik Tuban mirip dengan Batik Cirebon. Selain warna yang mencolok, Batik tuban memiliki ciri khas motif batik pesisir yang didominasi oleh kebudayaan Jawa, Cina, dan Islam. . Misalnya, gambar-gambar burung pada motif batik tulis Tuban terpengaruh dari budaya tiongkok. Hal ini bisa dilihat dari gambar burung yang dimotifkan pada batik tulis tersebut, burung Hong. Sedang pada motif bunga jelas terlihat adalah motif-motif tradisional yang sejak lama dibuat dihampir seluruh wilayah pulau Jawa. Sedangkan pengaruh islam pada motif batik tulis tuban terlihat pada motif dengan nama yang religious seperti kijing miring.
Batik Tuban termasuk ke dalam batik pesisir. Kebanyakan orang menyebut motif dari Batik Tuban mirip dengan Batik Cirebon. Selain warna yang mencolok, Batik tuban memiliki ciri khas motif batik pesisir yang didominasi oleh kebudayaan Jawa, Cina, dan Islam. . Misalnya, gambar-gambar burung pada motif batik tulis Tuban terpengaruh dari budaya tiongkok. Hal ini bisa dilihat dari gambar burung yang dimotifkan pada batik tulis tersebut, burung Hong. Sedang pada motif bunga jelas terlihat adalah motif-motif tradisional yang sejak lama dibuat dihampir seluruh wilayah pulau Jawa. Sedangkan pengaruh islam pada motif batik tulis tuban terlihat pada motif dengan nama yang religious seperti kijing miring.
Dalam hal tata warna, pada mulanya
batik Tuban dibatasi pada warna biru indigo, merah mengkudu, hitam, dan putih
serta kekuning-kuningan yang berasal dari akar mengkudu.Namun belakangan mulai
muncul tata warna putihan, yaitu latar putih dengan corak hiasan berwarna biru
tua dan hitam; tata warna pipitan, yaitu latar putih corak berwarna merah atau
biru tua, dan tata warna bangrod, yaitu latar putih dengan motif berwarna
merah.
Batik tuban sering dikenal dengan
istilah batik Gedog. Proses pembatikannya dimulai dari bahan kain yang
digunakan untuk membatik dipintal langsung dari kapas. Jadi gulungan kapas
dipintal menjadi benang, lalu ditenun, dan setelah jadi selembar kain lalu
dibatik. Hal ini lah yang membuat batik Tuban menjadi batik yang paling khas di
jawa timur.
Salah satu contoh motif batik tuban
adalah Motif kawung merupakan penggambaran dari daun kelapa yang bentuknya
disusun silang, yang menjelaskan struktur dari jagad raya. Pusat persilangannya
diartikan sebagai sumber energi. Apabila ditemukan motif memanjang yang
letaknya tepat di tengah kain, maka motif ini disebut dengan motif suluran dan
masih masuk dalam keluarga motif kawung Cirebon, dan biasa disebut dengan motif
dudo.
10. Batik Banyumas
Batik Banyumas memiliki sejarah yang
tak lepas dari pengaruh budaya, seperti Yogyakarta dan Surakarta, maupun Pekalongan.
Asal mula batik Banyumas memang belum dapat dilacak. Namun dari informasi para
sesepuh dan penggiat batik Banyumas, disebutkan batik Banyumas muncul, lantaran
pengaruh berdirinya kademangan-kademangan di daerah Banyumas dan para pengikut
Pangeran Diponegoro yang mengungsi di daerah Banyumas. Batik Banyumas identik
dengan motif Jonasan, yaitu kelompok motif non geometrik yang didominasi dengan
warna-warna dasar kecoklatan dan hitam. Warna coklat karena soga, sementara
warna hitam karena wedel. Motif-motif yang berkembang sekarang ini antara lain:
Sekarsurya, Sidoluhung, Lumbon (Lumbu), Jahe Puger, Cempaka Mulya, Kawung
Jenggot, Madu Bronto, Satria Busana, Pring Sedapur. Tentu saja, para penggiat
batik Banyumas juga menghasilkan motif-motif lain dengan melakukan kombinasi,
terobosan motif baru sehingga tercipta satu karakter seni lukis yang indah.
Bahan batik Banyumas antara lain: mori sen, dobi, sutera, paris. Batik Banyumas
dibedakan dari cara pembuatannya ada dua yaitu batik cap dan batik tulis. Batik
cap bisa diselesaikan dalam waktu tiga hari sementara batik tulis bisa tiga
sampai enam bulan, sehingga harganya pun jauh berbeda. Batik cap berkisar
puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah, sedangkan batik tulis dari ratusan
ribu sampai jutaan rupiah.
Referensi
http://shareblog-iwhe.blogspot.co.id/2012/12/berbagai-macam-motif-batik-di-indonesia.html